Showing posts with label pengabdian. Show all posts
Showing posts with label pengabdian. Show all posts

Wednesday, December 14, 2016

,

Cinta di Salam Tani

“Cinta di Salam Tani”
Oleh : Akhmad Rapiudin

Riakan air sungai langsung menyambut kedatangan kami, sungai itu jernih, langsung menghipnotis siapa saja yang melihatnya, untuk bermanja dan bermain air dengan riangnya, termasuk kami para relawan Gerakan Sumut Mengajar Angkatan Pertama. GSM itulah sebutan akrabnya. Relawan GSM Desa Salam Tani, desa yang rindang di pinggiran Kabupaten Deli Serdang, dengan air sungai jernih yang tak pernah bosan untuk dipandang.




Sekitar waktu Ashar barulah kami tiba di Masjid Desa Salam Tani, yang terletak persis di pinggir sungai desa tersebut, kami langsung disambut oleh pengurus BKM Masjid Baitussalam Desa Salam Tani dan kakek yang menjadi pengurus masjid tersebut, masih asing rasanya memang, namun tak selang berapa lama suasana akrab langsung bisa kami bangun dengan baik.

“Lima Serangkai” itulah sebutan kelompok kami yang mengabdi selama beberapa minggu kedepan sebagai relawan pengajar muda angkatan pertama Gerakan Sumut Mengajar Desa Salam Tani, ada aku “Raffi” yang ditugaskan sebagai ketua kelompok, mungkin karena aku yang paling tua atau dituakan disini, dan adik-adik hebat “Fachri” “Siti” Delvi” dan “Rizka” yaaah walaupun kami berasal dari latar belakang kampus dan program studi yang berbeda, namun entah kenapa langsung terasa akrab seperti saudara sendiri. Aku dan Fachri tinggal di perpustakaan masjid selama masa pengabdian, sedangkan gadis-gadis cantik dan super pintar dan bawel Siti, Delvi, dan Rizka, tinggal di salah satu rumah pengurus masjid yang letaknya tidak terlalu jauh dari masjid tersebut.

Warga disini begitu ramah, bahkan kebutuhan logistik kami selama pengabdian di tangung seluruhnya secara bergotong-royong oleh warga masyarakat desa Salam Tani, dari mulai makan sampai dengan tempat tinggal. Kegiatan malam pertama pengabdian kami diawali dengan musyawarah dan silaturahim warga masyarakat desa Salam Tani untuk memperkenalkan GSM, yang langsung dijelaskan langsung oleh Pilot Project GSM Abangda Faizur Rahman. Masyarakat begitu menyambut baik kegiatan ini, dan berharap kegiatan dini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.

Ada 3 tempat lokasi pengabdian bagi relawan GSM di Desa Salam Tani, yaitu  Taman Kanak-Kanak Imbadini, SDN 106819 Desa Salam Tani dan sekolah Masjid Baitussalam Perumahan Pesanggrahan Salam Tani. Setiap pagi kegiatan kami diawali dengan menjadi pengajar di Taman Kanak-Kanak, sudah terbayang bagaimana tingkah lucu anak-anak yang selalu menjadi hal yang tak pernah terlewatkan untuk membuat semua relawan tersenyum.

Pak Raffi, Pak Raffi ganteng, ayo main, ayo main” sambil menarik-narik lengan, begitulah setiap kali ketika saya datang, dan sudah pasti kami semua tertawa dalam setiap permainan yang dilakukan, masih terbayang wajah-wajah lucu mereka dan senyum ramah para ibu guru di TK Imbadini tersebut.

Kegiatan pagi kami lanjukan dengan menjadi pengajar di SDN 106819 Desa Salam Tani, kadang kami berbagi tugas bergantian untuk menjadi pengajar di TK dan SD yang ada di Salam Tani, yang mana letak sekolah tersebut sedikit jauh dari desa Salam Tani, yang pastinya kita tempuh dengan berjalan kaki dengan melewati ladang milik warga, yang tanpa segan justru warga desa yang lebih sering menyapa  kami duluan. Sungguh suasana desa yang menyenangkan. Selain mengajar di kelas, kegiatan mengajar di SDN 106819 Desa Salam Tani dilanjutkan dengan menjadi pengajar kegiatan ektrakulikuler  “Menari Tradisional” yang dibuat langsung oleh relawan GSM dan saya sendiri yang menjadi penanggungjawabnya, dengan ilmu seadanya mengenai gerakan tari tradisional. Tapi justru semangat anak-anak yang juga menjadi semangat saya untuk menanamkan nilai cinta mereka kepada budaya hebat milik kita sendiri.

Semangat anak-anak untuk belajar menari, dan di sela-sela nakal dan usilnya anak-anak justru menjadi hal yang begitu dirindukan, dan menjadi “Abang Favorit” disana sungguh menjadi salah satu hal yang paling membahagiakan dalam hidup. Namun, yang menjadi kegiatan favorit saya disini ialah “Labosani (Laskar Bocah Salam Tani)” kegiatan harian kami yang kami lakukan setelah sholat Ashar di Masjid Baitussalam desa Salam Tani untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama dan umum bagi anak-anak Desa Salam Tani, bukan hanya ilmu agama seperti praktek sholat, bahasa Arab, cara mebaca Al-Qur’an dan sebagainya, kami juga megajarkan ilmu umum, seperti bahasa Inggris, Matematika, bahkan ilmu alam yang kami ajarkan langsung kepada anak-anak dengan mengelilingi desa sekitar, dan mengenali segala macam jenis tumbuhan yang ada beserta fungsinya, diiringi dengan nyanyian ceria dan games yang menyenangkan dari para relawan yang membuat susasan belajar menjadi lebih riang dan menggembirakan.

Salah satu hal yang paling membahagiakan ialah mandi dan bermain air di sungai Desa Salam Tani yang letaknya persis di samping Masjid, tak jarang relawan lainpun mengunjungi kami hanya untuk bermain dan menimati suasana di aliran sungai yang jernih ini. Gelak awa kami beradu dengan riakan aliran air sungai kala itu.

Kegiatan pengabdian di desa Salam Tani ditutup dengan kegiatan perlombaan di masing-masing tempat kami mengabdi, lomba mewarnai di TK Imbadini Salam Tani, lomba Rangking 1 di SDN Sala Tani, dan lomba praktek sholat bagi anak-anak Labosani di Masjid Baitussalam. Begitu antusias mereka dalam mengikuti setiap perlombaan. Memang ada cinta disini, walaupun waktu pengabdian kami akan berakhir, namun tekad untuk mengabdi tak akan pernah mau berhenti sampai disini. Banyak anak-anak yang menuliskan surat untuk saya yang berisikan sedihnya mereka untuk berpisah dengan saya.
Bang Raffi, jangan pulang ya, disini aja, ajarin kami nari terus
Jangan lupain kami yaa Bang Raffi, semoga kalau gede nanti bisa kayak Bang Raffi
Subhanallah, bahagia sekali rasanya bisa menjadi insan yang bermanfaat. Teriring selalu doa agar saya dan merek mampu mewujudkan mimpi masing-masing. Waktu terus berjalan dan akhirnya selesailah masa pengabdian kami selama beberapa minggu di Desa Salam Tani, kegiatan GSM ditutup dengan meriah di Desa Hulu yang juga merupakan salah satu lokasi pengabdian relawan GSM, saya dipecayakan sebagai pembawa acara pada saat itu. Dan bangga dan bahagia sekali rasanya melihat adik-adik di Desa Salam Tani menampilkan tari tradisional yang saya ajarkan kala itu dengan begitu apik dan menarik, melihat mereka menerima piala karena memenangkan lomba, dan melihat mereka tersenyum riang karena ada kami di hati mereka. Sampai tibalah waktu mengumumkan siapakah relawan terbaik dari Gerakan Sumut Mengajar Angkatan 1 :
            “Dan relawan terbaik Gerakan Sumut Mengajar Angkatan Pertama adalah...................................” Suara semangat Bang Faizur sebagai Pilot Project yang mengumumkan kala itu.
            “Dan relawan terbaik Gerakan Sumut Mengajar Angkatan Pertama adalah Akhmad Rapiudin dari Desa Salam Tani” Suara lantang Bang Faizur mengumumkan.

            Sontak suara riuh hadirin kala itu membuat saya merinding. Saya berdiri dan menerima hadiah dan sertifikat sebagai relawan terbaik diiringi dengan tepukan tangan meriah dari para hadirin yang hadir kala itu. Alhamdulillah luar biasa sekali rasanya bagi saya. Namun, saya yakin semua relawan GSM ialah yang terbaik, tidak semua orang mau untuk mengabdikan diri dan mau merasa apa yang dirasakan masyarakat secara langsung untuk memperjuangan pendidikan bagi anak-anak mereka yang semuanya memiliki mimpi yang sangat luar biasa, senyum mereka adalah kebanggaan kita di masa depan, dan membuat kita tersadar betapa beruntungnya kita saat ini.



Foto bersama anak-anak SDN 10689 Salam Tani

 Jika ada cinta di hati, maka tak ada halangan untuk mengabdi. Salam Tani mengajarkan bahwa bangsa ini memiliki banyak generasi mungil saat ini, namun bermimpi besar di masa depan nanti. Begitupun saya, saya jatuh cinta disini, jatuh cinta dengan senyum ramah masyarakat, jatuh cinta degan kearifan lokal setempat, jatuh cinta dengan jernihnya aliran sungai yang menyegarkan kami setiap sorenya, dan jatuh cinta pada orang-orang yang dengan sepenuh hati untuk mengabdikan diri membangun mimpi-mimpi baru dari generasi negeri yang harus sama-sama kita jaga agar terwujud di suatu hari nanti, serta jatuh cinta pada anak-anak yang memiliki mimpi besar agar mereka mampu menjadi kebanggan keluarga dan bangsa ini.
Ingatlah, kita berbagi bukan karena kita belebih, tapi kita berbagi karena kita tahu bagaimana sedihnya tak mampu memiliki. Mari mendidik, karena mendidik adalah tugas para terdidik.




Continue reading Cinta di Salam Tani

Saturday, December 10, 2016

,

Desa Lausimomo Karo

Konbanwa mina san
Nah kali ini mimin akan mengesahre pengalaman pengabdian salah satu relawan GSM batch 2 selama 2 .Beliau sering disapa dengan Adi yang sedang kuliah di USU.
  Adi sebagai pengurus dibagian Publikasi dan Dokumentasi.  Yap langsung saja ya guys




First Time
Saat itu tepatnya. Rabu 8 Juni 2016 kami pergi ke desa Lau Simomo, Tanah Karo dengan menumpang mobil Kak Faiz yang sekaligus beliau yang memperkenalkan kami dengan orang tua asuh kami disana. Sepanjang perjalanan tampak keindahan deretan bukit hijau yang seolah-olah menyapa kami sepanjang perjalanan. Tak mau kalah gunung Sinabung turut menyapa kami dengan keindahannya yang khas. Tampak dari kejauhan, warnanya coklat dengan asap yang keluar dari ujungnya.


Sesampainya di desa Lau Simomo, kami berkenalan dengan orang tua asuh. Sambutan mereka sangat ramah terhadap kami. Kami berkenalan dan berbicara mengenai kami untuk perkenalan. Mereka juga berbicara tentang desa Lau Simomo,mengenai sejarah desa hingga karakter umum penduduknya. Perkenalan yang cukup manis. Dengan waktu yang cukup panjang dan diskusi ringan, akhirnya diputuskan kelompok kami dipecah menjadi dua untuk tempat tinggal yaitu di rumah biring dan dirumah mami. Rumah mereka bersebelahan dan posisinya juga cukup dekat dengan SD yang menjadi target kami mengajar. Kamis 9 Juni 2016, adalah hari pertama kami sosialisasi ke SD. Setelah audiensi dengan kepala sekolah dan para guru. Untuk hari pertama hingga hari sabtu saya dan teman-teman lainnya cukup mengajar disore hari dirumah mami yang adalah orang tua asuh kami. Kami belum dijinkan mengajar pagi karena karena kebetulan minggu itu adalah minggu ujian akhir semester. Kami dijinkan mengajar pagi hari seninnya.


Belajar sore adalah belajar di sore hari setelah sekolah. Saat itu adik-adik tersebut bisa belajar sekaligus bermain. Saya bisa membantu adik-adik yang kesulitan dengan materi-materi sekolah yang belum dikuasai mereka. Saya mengajari mereka dengan sabar dan rendah hati. Saya tahu yang saya hadapi adalah anak-anak. Rasa ingin tahu mereka sangat tinggi dan terkadang sangat rewel. Ada juga beberapa anak yang penurut. Itu bisa dimaklumi karena karakter setiap orang pasti berbeda.

Saat adik-adik tersebut merasa bosan, kami akan berkoordinasi dengan teman-teman relawan lainnya untuk membuat permainan bersama. Terkadang main kejar-kejaran, main kucing dan tikus dan permainan yang biasa dimainkan anak-anak seumuran mereka.


Anak Kalem VS Anak Rewel
Dalam beberapa kali mengajar sore, setelah saya perhatikan pasti ada dua tipe anak seperti ini. Anak kalem adalah tipe yang pasti menjadi anak kesukaan saya karena minimal dia mau mendengarkan dan biasanya juga anak yang rajin belajar. Lha anak rewel? Sudah pasti tipe seperti ini anaknya tukang ribut dan suka mengganggu si anak kalem yang seriusan.


Suatu waktu saya mengajar sore dan menemukan kedua tipe ini sekaligus. Kebetulan mata pelajaran matematika yang kami diskusikan saat itu adalah matematika. Tau kan guys kalo matematika itu ilmu pusing. Setelah belajar matematika, kamu pasti pusing keliling-keliling. Hehe.


Saat itu saya mengajari mereka tentang penjumlahan. Si adik kalem ini bertanya kepada saya tentang pr matematika yang belum bisa di kerjakannya begitu juga si adik rewel. Untuk adik kalem, saya ajari dan akhirnya dia bisa mengejakannya sendiri. Untuk adik rewel? Waduh. Mengajarinya itu ternyata lebih susah lho dari pada pr matematikanya. Adik ini perlu diajari berulang-ulang dan itupun dia belum tentu paham. Bagaimana mau paham? Bila diajari selalu bicara. Bang abang sekolah dimana? Abang tinggal dimana? Abang masih jomblo bg? Stop! Untuk pertanyaan terakhir aku jawab “iya dek” Hehe. walaupun tipe adik rewel ini sulit diarahkan namun kelebihan tipe anak rewel adalah mereka selalu periang dan selalu menghadirkan canda tawa yang bisa memecahkan suasana yang kaku.


Harus Pinter Baca Dek
          Setiap orang unik. Setiap orang pasti memiliki perbedaan yang khas satu dengan lainnya. Begitu juga dengan cara belajarnya. Beberapa orang bisa belajar secara massal dengan hanya seorang guru, yang lainnya bisa belajar secara personal. Hal ini yang saya temukan disaat saya mengajar sore. Saya mendapat kuota mengajar dua orang anak kelas III SD yang belum bisa membaca. Mungkin kita petama kali timbul dibenak kita, kedua anak tersebut tentu ber-IQ rendah atau dibawah rata-rata. Saat saya mengajari mereka, saya mendapati pemikiran seperti itu salah.

          Pertama kali saya cek mereka belum bisanya dimana. Ternyata mereka masih lancar mengeja. Lalu saya ajari mereka membaca pelan-pelan. Saat itu saya membawa kutipan-kutipan cerpen dari majalah koleksi saya. Lalu berikan kepada mereka masing-masing satu. Lalu saya ajari mereka membaca. Mula-mula lambat namun akhirnya mereka bisa membaca normal.

          Mereka berdua sebenarnya daya tangkapnya sama dengan anak-anak pada umumnya namun mereka butuh metode yang lebih personal. Adik-adik tersebut setelah saya ajari dengan metode personal, mereka lebih tertarik apalagi setelah saya motivasi bisa menyelesaikan membaca satu paragraph dengan lancar.
“ Dek, kalau kalian bisa membaca setengah dari cerpen, cerpen itu untuk kalian”, pinta saya. Mereka antusias dan bisa membaca lancar. Akhirnya mereka saya berikan dua kutipan cerpen saya. “Harus rajin-rajin dibaca ya dek cerpennya supaya semakin lancar”, nasihat saya.

Kelas Satu Squad
Cerita ini terjadi saat kami sudah diberi kesempatan mengajar pagi. Saat itu saya mendapat jatah mengajar adik-adik kelas satu. Waduh bisa saya bayangkan betapa rusuhnya kelas yang akan saya ajari saya.
          Ternyata hal itu menjadi kenyataan. Pertama kali masuk ke ruang kelas, mereka lari sana sini bagaikan tentara berperang. “Adek-adek, duduk yok. Biar kita nyanyi-nyanyi,” pinta saya. “Nyanyi apa bang, ” terdengar suara sahut-sahutan.
“Ayok kita nyanyi balonku ada lima”
Lalu kami bernyanyi bersama-sama. Ternyata cara tersebut efektif untuk membangkitkan minat anak-anak di kelas satu. Lalu saya ajak lagi bernyanyi beberapa lagu anak-anak lainnya sebagai pengantar. Mereka senangnya bukan main. Kemudian saya ajarkan bahasa Inggris untuk yang dasar seperti alfabet bahasa Inggris dan angka-angka. Mereka sebenarnya antusias namun agak rewel. Ya saya maklum rewelnya anak-anak. Ada saja yang bertanya pertanyaan yang tidak penting. Namun yang sedikit membuat saya pusing ketika ada beberapa anak yang permisi ke toilet. Tidak masalah yang keluar, satu atau dua orang namun mereka keluar hingga tujuh orang. Saya tentu tidak beri ijin namun mereka langsung keluar sambil tertawa-tawa. Saya merasa lucu juga akhirnya. “Adik-adik ini ingin saya ospek rupanya,”pikir saya.



Tersesat
Suatu sore kami selesai mengajar adik-adik untuk belajar sore. Saat itu kami sepakat selesai mengajar akan pergi ke jambur untuk sosialisasi dengan masyarakat yang saat itu sedang mengadakan pertemuan. Kami putuskan untuk mempercepat waktu mereka untuk pulang karena kami ingin pergi juga ke jambur. Saat itu kondisinya mendung. Kami putuskan kami pergi ke jambur sekalian mengantar adik-adik pulang.

Ditengah perjalanan ada seorang adik kecil kelas satu. Saya tahu pasti karena saya telah masuk kelasnya.  Saat itu saya merasa kasihan karena dia harus pulang sendiri ditengah mendung. Saat saya tanya,”Dek rumahmu dimana?” Dia menjawab rumahnya di atas. Saya bingung juga karena dia memilih rute yang berbeda sendiri lewat sebuah jalan setapak sempit disamping rumah sakit. Saat itu hujan sudah mulai turun walau rintik-rintik. Kemudian saya putuskan untuk menemani adik itu sementara teman-teman relawan lainnya mengantar adik-adik yang lain yang rumah mereka searah jambur. Saya berjanji akan menyusul ke sana.
Lalu saya dan adik itu pergi melalui jalan setapak di samping rumah sakit tersebut. Adik itu yang berjalan di depan. Kami berjalan melewati perkebunan jeruk dan naik turun bukit ditengah derasnya hujan. Medan perjalannya sangat licin karena hujan telah membasahi bukit yang kami lewati. Terdengar juga Guntur saling  sahut menyahut mengiringi langkah kami. Saya merasa kecut juga. “Bagaimana bila nanti saya disambar petir?” pikir hati kecil saya. Sekitar dua puluh menit akhirnya kami sampai juga di rumah si adik ini. Ternyata rumahnya di atas bukit. Saya senang akhirnya dia bisa pulang. Saya menolak untuk masuk sekedar minum karena saya mau menyusul teman-teman relawan yang lain yang sudah di jambur.

          Lalu saya pulang sendiri. Beberapa jalan saya masih ingat, namun kemudia saya dihadapkan suatu jalan berbukit penuh dengan pepohonan. Akhirnya saya lupa jalan pulang menuju samping rumah sakit itu. Saya berhenti sebentar untuk berfikir. Saat itu masih hujan dan petirnya masih menggelagar. Betapa mencekamnya suasana saat itu ketika saya sendiri diperbukitan yang belum pernah saya jalani. Saya putuskan untuk mengikuti jalan setapak yang saya tidak tahu arahnya. Lalu sampailah saya di sebuah pemukiman yang kemudian baru saya tahu bahwa itu adalah kawasan pemukiman penderita lepra di desa Lau Simomo. Seseorang mendapati saya sedang berlindung kedinginan di depan rumahnya. Dia bertanya, “Adik orang mana?” Saya jawab bahwa saya mahasiswa dari Medan yang mengajar di desa Lau Simomo. Beliau mempersilakan saya masuk dan memeberikan saya suguhan berupa teh manis hangat dan gorengan panas. Ternyata beliau itu adalah orangtua adik yang saya ajari di SD Lau Simomo.

Didalam rumah kami bercerita mengenai asal-usul desa Lau Simomo. Saya sudah mengetahui sekilas tentang desa Lau Simomo dari orang tua asuh saya, Bp. Ginting. Beliau menceritakan lebih lengkap karena beliau sendiri adalah pasien disana. Beliau sangat ramah. Ketika saya mau bersalaman pulang, saya mengetahui ternyata beliau penderita lepra (jari-jari beliau bengkok). Pengalaman ini sangat berkesan bagi saya karena saya baru pertama kali bersalaman dengan penderita Lepra. Sedikit takut juga namun saya teringat perkataan mami saya bahwa pasien Lepra di desa tersebut sudah mendapat semacam “obat” agar tidak menular pada orang lain. Setelah berbicara panjang lebar saya akhirnya minta ijin pulang dan diantar beliau. Sungguh pengalaman yang berkesan tak akan saya lupakan.










Continue reading Desa Lausimomo Karo

Tuesday, December 6, 2016

,

Desa Lingga Julu Is The Best

Selamat siang abang dan kakak
Kali ini mimin akan membagikan pengalaman seorang relawan GSM 2. Beliau sering disapa dengan panggilan Ira. Bulan 8 2016 beliau baru wisuda dengan gelar S.KM loh guys . congratulation ya kak ira :) .
Langsung saja yaaa ...

Story of  Two Week Spent 



I wanna share my precious experience that i have got from being a volunteer of Gerakan Sumut Mengajar that we’re used to saying it as “GSM”. Because sharing means caring then let me start it now. It’s began from my friend invitation to join the recruitment together finally brought me to a village, Lingga Julu village where it has about one hundred group families who live there.    


The first time we had arrived we were picked up by two kindhearted man who take the rule of moslem families in Lingga Julu. They choosen which one family would be our mother and father when we spent two weeks as a volunteer. They were very kind threating us as their real family. The first image that made us had to do the same as they did. So many planning list we’d made for two weeks and the result good enough as well.

Lingga Julu village was not too far from berastagi the center of the site instead of Kaban Jahe. It took fifteen minutes to reach for buying daily need when we’d been there. That’s why according to me there were no big matters had to be finished because of the easy access getting the center site. There was an elemtary school located in this village, most of children studied there and after finishing their elementary school they decided to continue their study in junior or senior high school which was located in Berastagi. It made us not to take notice of formal education instead of religion education.

Besides we do this event on fasting month it was also because moslem group families have been minority in Lingga Julu. There were some of old moslems called Tigan, Biring, Karo as their family name of Bataknese couldn’t read Al-quran even reading Iqro was difficult for them but by willing eagerness they were dilligent to pray in their small mushola which they built by their own effort. Almost all of our time we spent in mushola to teach them started from children, youth, and in the morning after praying subuh the time for old . It was a bit surprised me where i found age was not a bother to had a willing for studying how to read Iqro so that they could continue to read Al-quran though they had to work in the field all day long but having spare time in the morning for them was a must because they thought we didn’t stay long there so they want to use this opportunity to study a bit about religion. They also want us to share as much as we could and as much as we knew. Such a valuable of us,  made us want to fly high because there were ones who needed us. Indeed i couldn’t deny “the best man is those who give adventages as much as they can be for around”, it knocked my heart and make my heart beaten so fast for the precious two weeks.    

Three times a day,  we had to prepare what we would share to them especially for Birings, Tigans, and Karo, definetly we only share our basic knowledge for them by considering their ability to accept and their basic knowldege about religion was so poor therefore comforming our fair knowledge and their ability to understand got us to elect the easiest theme for discuss. Occasionally we got difficulties to convey since they deny their incomprehension that trapped we to be more patient facing them and kindly said please listen to us slowly but sure they would show their agreement on us. it would be one of unforgetable experiences in my way to find the genuine life. For my self, twenty four  hours of a day didn’t enough at that time, i wish i could change the time became longer heheh not only for me , my three friends definitely feel the same. Enough to prove me how sharing fascinated me a lot. Getting happiness for ourself is common what about getting happiness together ? Besides to share will not bring lackness it will come back to us with its own way, for instance when u felt fortune on something hard who know maybe it’s because someone’s prayer blessed over yourself for what u’ve given as a turn. Let’s always give whatever u are able to give, never stop doing best not only for ourself but also for others.

Being a volunteer will teach you how to assess this life, to be mature, and to treat human being that take you to live your life well. Fortunately it has happen to me and it will not close possibility for you who wanna feel the great beat becoming a volunteer even for the first, then u will crave and miss the moment that make you crazy enough to experience more and more. One more life lesson, it told me “what my existence in the shortest life is for?”. What for? At least it has answered a bit for me. To draw your life more valuable dives into volunteer world will help so much. That’s all my words description that i can deliver to you so you can imagine what i feel , but it just about thirty persent of all before you experience by yourself it will never be one hundred. Hereby i want attach two pictures of us. so it will be thirty five percent hahah, it rises five percent the rest let me persuade you to get the same as me by your own self.
Continue reading Desa Lingga Julu Is The Best

Friday, December 2, 2016

,

Jangan Tunggu TUA

Hajimemashite ! Perkenalkan



Nama saya adalah Dimas Nugroho P.W. teman-teman sering manggil saya dengan sebutan Dimas. Saya lahir di Kota Tebing Tinggi, 12 November 1994. Saya anak pertama dari 3 Bersaudara. Ayah saya bernama Warcipto S.E dan ibui saya bernama Sri Kristianingsih. Ayah sekarang bekerja sebagai wiraswasta dan ibu saya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Saat ini saya tinggal di kota medan tepatnya di jalan puri gg buntu.

Pada tahun 2000 saya memulai pendidikan di jenjang sekolah dasar (SD). Saat itu saya bersekolah di SD N 163080 Tebing Tinggi. Selama enam tahun saya berangkat sekolah ke tempat tersebut dengan jalan kaki. Saya selesai selama 6 tahun tepatnya tahun 2006 dari jenjang sekolah dasar (SD) dan mendapatkan ijazah. Setelah tamat sekolah dasar (SD) saya melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya yaitu sekolah menengah pertama (SMP). Saya bersekolah di SMP N 9 Tebing Tinggi. Di SMP N 9 inilah saya menimba ilmu selama 3 tahun lamanya. Seiring waktu berlalu selama 3 tahun saya menyelesaikan pendidikan pada tahun 2006-2009 dan saya mendapatkan ijazah SMP. Kemudian dilanjutkan ke jenjang berikutnya yaitu sekolah menengah keatas (SMA). Saya melanjutkan di sekolah SMA N 1 Tebing Tinggi. SMA N 1 inilah menjadi sekolah terfavorite di Tebing tinggi pada saat itu sampai sekerang. Selama 3 tahun saya memperoleh ilmu yang sangat bermanfaat dari guru-guru yang hebat dan akhirnya saya menamatkan SMA selama 3 Tahun. Pendidikan saya tidak hanya sampai SMA. Saya melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu Perguruan Tinggi (PT). Perguruan Tinggi Negeri adalah perguruan yang diinginkan oleh smeua orang. Dan untuk masuk perguruan tinggi negeri (PTN) tidaklah mudah perlu seleksi yang diikuti oleh ribuan manusia. Alhamdulilah, saya masuk PTN yang ada di Sumatera Utara yaitu UNIMED dengan jurusan Kimia dengan prodi Pendidikan Kimia S1.

Selama kuliah saya tidak hanya datang ke kampus, duduk cantik dengarin dosen berceramah lebar kali panjang kali tinggi hehehe dan sehabis selesai kuliah langsung pulang. Karena saya bukanlah manusia jelangkung hehe. Dalam waktu kosong selama kuliah saya mengisi waktu dengan mengikuti organisasi yang ada di kampus. Organisasi yang pernah saya ikuti yaitu Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Ar Rahman, Lembaga Penalaran dan Penelitian Ilmiah Mahasiswa (LP2IM) dan Forum Silaturahmi Jurusan Kimia (FORSIMKA). Saya masih tetap saja kurang untuk mengisi waktu kosong. Kemudian saya mengisi waktu kosong dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang diluar kampus. Kegiatan pegabdian yang menjadi pilihan saya. Kegiatan pengabdian yang pernah saya ikuti seperti Relawan mengajar, pengabdian terhadap masayarakat. 

Tepatnya pada tanggal 08 sd 10 April 2016 saya dan para relawan lain mengisi kegiatan PERHUMAS mengajar dan pengabdian di desa telaga tujuh kecamatan labuhan deli kabupaten deli serdang. Kegiatan ini diisi selama 3 hari. Kegiatan berupa mengajar anak SD, penanaman bibit, mendekorasi sekolah, sunat missal, pengobatan gratis, dan nonton bareng dengan masyarakat. Pada tanggal 01 Mei 2016 hari sebelum hari pendidikan Nasional. Saya mengisi kegiatan “Ki Hajar Dewantara” Indonesia Mengasuh. Kegiatan berupa seharian bermain dengan anak-anak. Pada tanggal 8 sd 10 Mei 2016 saya mengikuti kegiatan volunteer “1000 guru medan”. Kegiatan ini tepatnya di Relokasi Gunung Sinabung Siosar kabupaten karo. Kegiatan berupa mengajar anak SD, donasi dan travelling. Pada tanggal 08 sd 19 Juni 2016 saya mengikuti kegiatan “Gerakan Sumut Mengajar” selama 12 hari di desa Lingga kecamatan Simpang Empat kabupaten Karo. Kegiatan berupa pengabdian terhadap masyarakat, mengenal budaya karo dan mengajar anak SD.

Pertanyaan : Mengapa saya suka dengan kegiatan pengabdian ini ?
Jawaban simpel : untuk berbuat baik tidak harus menunggu tua tidak ada yang tau maut kapan akan menjemput. Berbagi dan Jadilah Bermanfaat bagi orang lain. 
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting tiap kehidupan manusia. Karena pendidikan yang maju merupakan awal mencapai kesuksesan dunia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk karakter kepribadian tiap manusia. Namun, pendidikan yang ada di Indonesia masih sangat kurang jauh dengan pendidikan yang ada di luar neger bahkan kalah jauh dengan tetangga sebelah seperti Malaysia. Tidak perlu dilihat ibukota Indonesia yaitu Jakarta. Di provinsi Sumatera Utara saja masih kurang akan pendidikan terutama yang berada dalam daerah pelosok atau yang tidak terjangkau oleh pemerintah. Nah, dari situlah saya bertujuan untuk membagikan apa yang saya punya kepada adik-adik yang masih masih kurang akan pendidikannya.

Dari kegiatan inilah saya mulai berani untuk mengambil keputusan akan cita-cita saya ke depannya yaitu ingin menjadi seorang Dosen. Cita-cita saya tidak lah terlalu tinggi namun berjasa. Memang pekerjaan yang paling mulia itu adalah guru. Namun, untuk membentuk suatu kepribadian guru adalah jasa seorang dosen. Saya ingin menjadi seorang dosen karena ingin menjadi seorang pendidik yang bakal mengajar para mahasiswa. Para mahasiswa yang nantinya bakal menjadi seorang Guru yang bermanfaat bagi Nusa dan Bangsa.


Keinginan ke depannya berharap Pendidikan yang ada di Indonesia semakin maju dan bisa mengalahkan pendidikan yang ada di luar negeri. Saya ingin menyampaikan “Bermimpilah wahai para generasi muda karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”
Continue reading Jangan Tunggu TUA
,

Hidupmu Bukan Untuk Santai Bro

 Yuhuuuuu

Dian adalah sebutan namaku sehari-hari. Saya seorang mahasiswa USU. saya diamanahkan di GSM sebagai Pilot Project. Saya akan bercerita sedikit tentang pengalaman saya ya :)


Cita-cita saya di tahun 2030 ingin menjadi Gubernur Aceh. Alasan saya ,karena banyak permasalahan di Aceh. Masalah terbesar+ adalah kemiskinan dan krisis sumber daya manusia yang tidak berkualiatas. Padahal Aceh memiliki potensi besar untuk menjadi daerah yang maju dan mandiri. Hal ini bisa dilihat dari kemampuan Aceh untuk membangun kembali Meulaboh dan Banda Aceh dengan waktu yang singkat dari keterpurukannya akibat bencana tsunami yang melanda Aceh tepatnya tahun 2004 silam. Untuk mengentaskan kemiskinan dan menciptakan sumber daya manusia yang  berkualitas saya akan mencanangkan program pendidikan yang berfokus pada ”Peningkatan kualitas tenaga pengajar dan progaram wajib belajar sampai sarjana". Dengan progaram tersebut maka saya yakin kesejahteraan rakyat Aceh akan menjadi lebih baik lagi karena dengan pendidikan masyarakat akan lebih bermartabat.


Saat ini saya sedang menempuh pendidikan sarjana di Universitas Sumatera Utara dengan mengambil jurusan Sastra Daerah berfokus dibidang Linguistik. sebgai mahasiswa saya aktif dalam berbagai organisasi di kampus.hal ini saya lakukan untuk mengembangkan ilmu yang saya miliki agar bermanfaat bagi orang-orang yang ada disekitar saya. Bergabung dengan organisasi ”Sahabat Beasisiwa Untuk Negeri” sebagai relawan serta kordinator kaderisasi dan pengembangan karakter. Selain melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah dalam mensosialisasikan berbagai program beasisiwa yang bertujuan agar para pelajar mampu melanjutkan pendidikan keperguuan tinggi walaupun terkendala di masalah finansial, kami juga mengadakan Science Competition yang dihadiri oleh sluruh pelajar yang ada di Sumatera. 

Saya juga aktif sebagai “penyiar radio” di USU kom untuk melatih kemampuan saya di public speaking. Penyiar menjadi salah satu pilihan saya begitu pula dalam bidang spiritual. Saya bergabung bersama Partai Hizbuth Tahrir Indonesia bergerak dibidang “Tim Kontak Mahali” yang bertugas langsung untuk mendakwahkan islam kepada para tokoh, seperti para dosen dan kaum intelektual. Dengan berbagai organisasi yang diikuti , saya juga aktif dalam melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat setiap tahunnya.

Untuk mewujudkan cita-cita saya sebagai gubernur Aceh maka masih banyak potensi diri yang harus saya gali. Untuk melanjutkan pendidikan  yang lebih tinggi lagi sangatlah penting namun disamping itu saya harus mempunyai jaringan yang sangat luas. Hal ini saya tempuh dengan mengikuti berbagai organisasi ,berperan langsung sebagai pemimpn dalam setiap kegiatan serta mengikuti acara-acara penting yang berkaitan dengan kepemimpinan dan pendidikan.


Target yang saya tempuh untuk 7 tahun kedepan, 2017 lulus S1 dari universitas sumatera utara, 2019 lulus s2 . Setelah lulus S2 saya akan bekerja di instansi-instansi pemerintahan didaerah Aceh. Untuk mempertajam kemampuan saya maka tahun 2021 saya akan melanjutkan S3. Disamping itu  untuk membangun jaringan dengan masyarakat Aceh, maka setelah meluluskan masa belajar ,saya akan kembali kekampung halaman saya di Aceh.


Besar harapan saya untuk menjadi bagian dari “inspirator indonesia” ,untuk meningkatkan keterampilan ,pengalaman, dan menambah jaringan  dengan bertemu pemimpin-pemimpin muda yang menginspirasi  indonesia , sehingga akan membantu saya dalam mewujudkan cita-cita. dan dengan pengetahuan saya dibidang pendidikan berdasarkan pengalaman yang saya miliki, maka “divisi pendidikan “menjadi pilihan saya untuk bergabung bersama “inspirator indonesia”. besar keyakinan saya untuk bisa berkontribusi dengan baik setelah bergabung dengan”Inspirator Indonesia”karena sesuai dengan tujuan dan cita-cita saya dimasa depan sehingga saya akan lebih mudah bekerja bersama tim untuk mewujudkan satu visi dan misi.

Baiklah semoga bermanfaat ya


Continue reading Hidupmu Bukan Untuk Santai Bro

Thursday, December 1, 2016

,

Pengabdianku Untuk Bunga Baru

Assalamu'alaikum 
Yappp ,,,, teman-teman sering memanggilku dengan sebutan Agi . Saya seorang Mahasiswa di USU tepatnya Fakultas Kesehatan Masyarakat tahun 2013. Beberapa Bulan yang lalu, tepatnya pada bulan Ramadhan saya berbagi pengalaman dengan daerah yang rawan dengan Letusan Gunung Berapi . Langsung saja ya ceritanya  :)

Pengabdianku Untuk Bunga Baru
Agi Nurhayati



Desa Bunga Baru adalah salah satu desa yang berada di kecamatan Tiga Binanga yang terletak cukup jauh dari pusat kota Tiga Binanga. Desa Bunga Baru merupakan salah satu desa yang cukup luas, namun hanya saja lokasinya yang sangat terpencil dan harus menggunakan kendaraan untuk mengitarinya. 

Rumah penduduk di desa ini bisa dikatakan tidak terlalu banyak dan juga berjarak cukup jauh antara yang satu dengan yang lainnya. Selain itu rumah juga banyak yang berada di tengah tengah kebun mereka.

 Bila dilihat mengenai kondisi penduduk, di desa ini mayoritas umat kristiani. Umat muslimnya hanya terdapat sekitar 40 Kepala Keluarga. Walaupun jarak satu rumah dengan yang lain cukup jauh tidak menyurutkan nilai toleransi mereka. Mereka tetap mengenal warga satu desanya walaupun berjarak hampir kira-kira lima kilometer lagi menuju kampung yang benar-benar menjadi pusat aktivitas masyarakat. 

Di kampung terdapat beberapa fasilitas yang sebenarnya belum dikatakan layak bagi masyarakat dan sangat membutuhkan banyak perhatian.Puskesmas Pembantu ada hanya saja tenaga kesehatan tidak ada. Hanya terdapat seorang bidan yang itupun bekerja bagi ibu-ibu yang ingin imunisasikan anaknya. 

Mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Hampir satu harian aktivitas mereka berada di ladang. Tidak hanya mengerjakan ladang milik mereka sendiri, ada juga yang bekerja untuk ladang milik orang lain. Yang seperti itu biasanya dilakukan para remajaremaja yang orang tuanya tidak punya ladang dan ingin menghasilkan uang jajan sendiri. 

Banyak jenis tanaman yang mereka tanam, jagung, padi, coklat, kelapa, dan banyak yang lainnya. Dibalik kondisi itu semua, pada intinya warga di desa ini memiliki jiwa kekeluargaan yang sangat tinggi, serta ramah kepada siapapun. 

Berbicara soal pendidikan, di desa Bunga Baru sendiri terdapat sebuah bangunan sekolah dasar yang kebanyakan diisi anak-anak dari desa tersebut. Namun sayangnya semangat anak-anak ingin menuntut ilmu di sekolah ini tidak dilengkapi dengan fasilitasfasilitas sekolah lengkap yang seharusnya mereka dapatkan. Disekolah ini sangat minim sarana dan prasarana , terkhusunya yang paling meprihatinkan adalah tenaga pengajar. Hanya terdapat enam tenaga pengajar disana itupun tiga diantaranya adalah guru honorer. Sungguh sangat memprihatinkan. 

 Guru agama islam dan lainnya pun tidak ada. Pendidikan sekolah dasar yang seharusnya gratis, di tempat ini orang tua siswa harus membayar sebesar 10.000 per bulan guna membayar gaji guru honorer yang ada. Di situasi lingkungan yang seperti ini ditambah sarana pendidikan yang minim, bagaimana bisa anak-anak disana yang sangat memiliki semangat juang dan cita-cita yang tinggi dapat meraih semuanya. Maka desa ini sangatlah perlu banyak pembenahan dalam banyak hal terkhususnya dibidang pendidikan dan kesehatan.

 Adapun berdasarkan kondisi itu, saya sebagai salah satu relawan pengajar muda Gerakan Sumut Mengajar merasa sangat tergerak untuk bisa membantu mereka yang memang sangat butuh bantuan. Saya bersama kedua teman satu kelompok saya dan satu perjuangan saya bekerja secara kompak dan ikhlas membantu mereka. 

Hal pertama yang paling berkesan yang kami lakukan di desa adalah sebagai founding fathers sekaligus fasilitator dalam pembentukan serta pelantikan Pengurus Remaja Masjid. Pada dasarnya kami berpiikir bahwa desa mereka dan mereka lah yang sepatutnya mengembangkannya,dan kita sebagai pendatang hanya memberdayakan mereka. Dengan terbentuknya forum remaja masjid maka akan ditemukan para remaja desa yang mau dan mampu berpikir untuk desa mereka. 

Selama beberapa hari disana kami juga datang ke sekolah anak-anak yang sangat butuh banyak tenaga pengajar dan penambahan fasilitas untuk menunjang keberlangsungan proses pembelajaran. Di sekolah tampak kobaran semangat yang sangat merah membara di mata mereka bahwa mereka ingin sukses dan kuliah seperti anak-anak pada umumnya. Kami datang dengan sejuta kata motivasi dan penyemangat, hingga satu hari di sekolah terasa sangat besar efeknya. 

Melihat kondisi kesehatan ibu dan balita disana juga bisa dikatakan kurang baik maka saya sebagai salah satu mahasiswa kesehatan masyarakat tergerak untuk memberikan mereka penyuluhan dan sedikit ilmu yang saya dapatkan di bangku kuliah saya saat ini. Saya merasa sangat bahagia dan bangga bisa menjadi salah satu relawa di desa Bunga Baru, desa yang didalmnya banyak orangorang yang sangat mengahrgai satu sama lain. Menghormati dan melayani siapapun termasuk kami yang datang ke desanya dengan sebaikbaiknya.

 Hingga saat ini saya merasa mendapat dua keluarga baru untuk pengabdian yang terbaik yang pernah saya lakukan seumur hidup saya. Keluarga Sumut Mengajar dan Kelaurga di desa Bunga Baru. Saya merasa bakti ini sangat positif dan baik sekali. Semoga semua pengalaman yang saya dapatkan selama menjadi relawan pada Gerakan Sumut Menagajar ini bisa menjadi bekal untuk saya dan kehidupan saya kedepannya. Dan juga saya sangat berharap agar Gerakan Sumut Mengajar selalu berlanjut dan bisa menjadi salah satu pelopor gerakan gerakan lainnya yang baik bagi negeri


Continue reading Pengabdianku Untuk Bunga Baru