Wednesday, December 14, 2016

,

“URGENSI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MEMBENTUK AGENT OF CHANGE DALAM MENYAMBUT PENDIDIKAN EMAS TAHUN 2030”

“URGENSI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MEMBENTUK AGENT OF
CHANGE DALAM MENYAMBUT PENDIDIKAN EMAS TAHUN 2030”

Oleh : Syarifah Wahidah
UIN SU




Kondisi masyarakat saat ini telah jauh bergeser dari nilai-nilai agama dan budaya bangsa. Berbagai bentuk penyimpangan sosial hampir setiap hari terdengar dan terlihat lewat berbagai media cetak dan elektronik. Dari penyalanggunaan minuman keras, penyalanggunaan narkoba, perkelahian antar pelajar dan mahasiswa, perilaku seks di luar nikah dan berbagai bentuk kejahatan/kriminalitas (dalam bentuk pembunuhan, penjambretan, perampokan, korupsi, dan lain-lain). Hal ini menunjukkan bahwa negara dan bangsa Indonesia sudah mengalami krisis besar dan multidimensional. Kondisi ini tidak hanya berbahaya, namun juga merupakan ancaman nyata bagi kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Jika dilacak lebih jauh, krisis dalam watak dan karakter bangsa itu terkait banyak dengan semakin tiadanya harmoni dalam keluarga. Banyak keluarga mengalami disorientasi bukan hanya karena menghadapi krisis ekonomi, tetapi juga karena serbuan globalisasi nilai-nilai dan gaya hidup yang tidak selalu kompatibel dengan nilai-nilai dan norma-norma agama, sosial- budaya nasional dan lokal Indonesia. Sebagai contoh saja, gaya hidup hedonistik dan materialistik; dan permissif sebagaimana banyak ditayangkan dalam telenovela dan sinetron pada berbagai saluran TV Indonesia, hanya mempercepat disorientasi dan dislokasi keluarga dan rumah tangga.

Akibatnya, tidak heran kalau banyak anak-anak yang keluar dari keluarga dan rumah tangga hampir tidak memiliki watak dan karakter. Banyak di antara anak-anak yang alim dan bajik di rumah, tetapi nakal di sekolah, terlibat dalam tawuran, penggunaan obat-obat terlarang, dan bentuk-bentuk tindakan kriminal lainnya, seperti perampokan bis kota dan sebagainya. Inilah anak-anak yang bukan hanya tidak memiliki kebajikan (righteousness) dan inner beauty dalam karakternya, tetapi malah mengalami kepribadian terbelah (split personality).

Berbagai fenomena di atas menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran nilai etika dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Masyarakat yang seharusnya mengamalkan nilai-nilai agama, budaya dan falsafah bangsa, kini telah bergeser menjadi masyarakat yang menjauh dari nilai-nilai agama, budaya dan falsafah bangsa, malah lebih cinta kepada budaya asing. Dampak dari semua itu adalah hilangnya nilai-nilai karakter yang melekat pada bangsa kita sebelumnya, seperti rasa malu, kejujuran, kebersamaan, persatuan dan kesatuan, tanggung jawab, nasionalisme, kepedulian sosial dan lainnya. Situasi ini seperti situasi yang ”anomie, yaitu memudarnya nilai-nilai yang berlaku dan tidak adanya norma-norma atau nilai-nilai bersama”

Dewasa ini, makin disadari pentingnya pendidikan karakter bangsa dalam upaya pengembangan sumber daya manusia suatu bangsa. Berbagai kajian dan fakta menunjukkan bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki karakter kuat. Karakter yang kuat ini pastinya harus mulai ditanam dan dibudayakan sedini mungkin. Pertanyaannya siapa yang akan menanam dan membudayakan pendidikan karakter ini kepada pelaku pendidikan emas tahun 2030 nanti? Pastinya pondasi pertama yang paling kuat dan garda terdepan untuk ini adalah pendidik-pendidik yang hari ini menjadi contoh teladan dalam menanamkan karakter, pendidik yang baik adalah pendidik yang mulai menanamkan karakter pada dirinya sendiri, karena pada hakikatnya apapun yang dimulai dari diri sendiri akan lebih bermakna, memulai dari diri sendiri bukan hanya sebatas ucapan semata namun juga aksi nyata yang dilakukannya. Saat seorang guru bisa menjadi contoh teladan kepada peserta didiknya maka disitulah keberhasilan seorang pendidik dapat dilihat nyata.

Jika pendidikan karakter ini tidak dimulai dari pendidik sendiri dan tidak dimulai dari sekarang ini, maka kemungkinan yang terjadi adalah cita-cita besar bangsa dalam mewujudkan pendidikan emas di tahun 2030 akan terkendala, dan bahkan mungkin tidak akan tercapai.

0 comments:

Post a Comment